Memerdekakan keuangan dan menjadikan lele sebagai penyambung hidup

Siang ini, ruangan INTAI dipenuhi oleh BMI yang rela berdesak-desakan mendengarkan sang pembicara menyampaikan wejangan-wejangannya....

Siang ini, ruangan INTAI dipenuhi oleh BMI yang rela berdesak-desakan mendengarkan sang pembicara menyampaikan wejangan-wejangannya. Ada apakah gerangan disana? Ternyata IPIT (Ikatan Pekerja Indonesia di Taiwan) sedang mengadakan seminar kewirausahaan untuk bekal bagi para BMI agar tidak kembali bekerja ke luar negri sepulang dari tanah rantau.

Seminar kali ini menyajikan 2 topik yang berbeda, topik pertama adalah “Keuangan Merdeka” yang dibimbing Pak Julius Dermawan, dan topik kedua adalah “Ternak lele dan Nila” oleh Pak Dedi Fazriansyah.

Secara umum, visi dalam seminar ini adalah keuangan merdeka. Dalam kehidupan sehari-hari, berapapun besarnya gaji seseorang, tak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Dan jika ingin menjadi orang kaya, seseorang harus punya mental dan cara berpikir layaknya orang kaya. Terdapat 6 cara yang dapat membuat seseorang menjadi bermental kaya yang Pak Julius rumuskan dengan formula A-B-A-B-A-B (Amal-Bayar-Aman-Bunga_AlMirats-Bebas):

  1. Amal

Wajib: amal sesuai kepercayaan(misal di Islam ZIS) dan sukarela dengan prinsip 3T (Teliti, terpercaya, terus-terusan

  1. Bayar

Selalulah mendahulukan untuk membayar utang dan tanggungan

  1. Aman

Lindungilah kebutuhan pokok: sandang, papan dan pangan, barulah berinvestasi, dan berinvestasilah di yang beresiko rendah dan tinggi, jangan di bank.

  1. Bunga

Jangan sembarangan menaruh duit, taruhlah di tempat yang bisa memberikan kepastian dan sesuai kemampuan

  1. Al-Mirats

Rencanakan pewarisan/transfer kekayaan anda. Ini lebih baik dikonsultasikan, mana cara yang tepat. Sebab dengan begitu, warisan bisa bertambah.

  1. Bebas

Setelah memenuhi 5 hal di atas, barulah kita gunakan uang tersebut untuk kebutuhan kita. Jadi paradigmanya adalah :

Pendapatan-Rencana = Pengeluaran, bukan Pendapatan-Pengeluaran=Tabungan

Seusai materi pertama disampaikan, materi kedua disampaikan oleh Pak Dedi selaku pengusaha lele sekaligus mahasiswa program PhD National Taiwan Ocean University (NTOU). Pak dedi mengawali seminarnya dengan menjelaskan alasan mengapa bisnis ikan cukup menjanjikan dan sebagai pemula kita disarankan untuk membuka bisnis lele.

Menurut pengalaman Pak Dedi, bisnis lele mudah dan tidak beresiko tinggi, dan dewasa ini lele sering menjadi makanan alternatif pengganti daging. Selain itu, harganya dapat bersaing dengan harga daging di pasaran, lele pun bergizi serta memiliki pangsa pasar yang terbuka luas.

Dalam usaha lele, terdapat beberapa segmen, diantaranya Pembenihan/pemijahan-Pendederan-pembesaran-Pendistribusian-Pengolahan. Untuk menjalankan usaha lele, kita bisa mengikuti serangkaian proses berikut: Pilih segmen->Analisa usaha->belajar tekniknya->Siapkan alat dan bahan->Mulai!->Impas->untung->perluas usaha->Bikin Jaringan->Jadi konglomerat.

Selanjutnya, Pak Dedi memaparkan cerita keberhasilan berbagai orang, yang memulai usaha ini dari yang paling sederhana hingga akhirnya sukses. Pak Dedi pun mepaparkan tentang perbedaan dan keunggulan lele dan Nila. Pembudidayaan lele dapat cepat memetik hasilnya, tangguh, lele pun dapat makan apa saja (sehingga untuk pakan lele tidak terlalu sulit), dan lele bisa diolah jadi beraneka ragam produk. Pembudidayaan nila pun dapat cepat memetik hasilnya, mudah dipelihara, rasanya enak, serta prospek ekspor filletnya besar. Salah satu informasi penting yang didapat dari pak dedi adalah Amerika dan Eropa marah-marah karena dewasa ini fillet semakin jarang dikirim oleh Indonesia sebab peternak lebih memilih melepas langsung ke pasar saat daging filletnya belum ada, karena pengusaha lele ingin cepat untung.

Tempat pengelolaan ikan lele pun tidak terlalu merepotkan, bahkan tempat memelihara lele dapat dibuat dari bak terpal. Keuntungan bak terpal ini adalah murah, mudah dirawat, ikannya bersih dan berkualitas. Tak luput pak dedi pun melakukan demonstrasi pembuatan bak terpal untuk memelihara lele. Dan jika kita ingin membeli bak terpal ini, kita dapat bilang kalau kita ingin membeli “terpal ikan”.

Secara teknis, Sebelum menaburkan benih, air pet dibiarkan selama 1-3 hari di bak dan diaerasi. Pakan ikan dapat berupa pelet, yang besarnya tergantung ukuran ikan. Ikan pun harus diberi makan hingga kenyang, yaitu sampai pelet tidak dikerubungi lagi oleh lele. Jika lele tidak makan sampai kenyang, maka para pengusaha harus siap menonton  pertunjukan kanibalisasi lele. Pengeluaran untuk pakan lele ini menghabiskan 70-80% total biaya, sehingga lebih baik jika pakan lele dibuat sendiri atau didapat dari jaringan/kelompok agar lebih murah.

Pemeliharaannya berupa pergantian air, 2 bulan pertama 1 bulan 1x, dan setelahnya 2 minggu sekali. Kemudian penyiphonan air. Setelah itu, pemilik tinggal memantau perkembangannya dan jangan malas (malas ngasih makan, malas membersihkan, malas ganti air) karena malas ini faktor utama kegagalanan. Usaha ini pun bisa diiringi usaha pengolahan ikan (pembuatan pecel lele, dsb).

Di akhir sesi, pak Dedi menunjukkan ke peserta seekor lele Taiwan yang berukuran sepanjang lengan orang dewasa. Makanan lele Taiwan adalah sisa pemotongan ayam, terutama usunya yang dijadikan pelet oleh pemiliknya. Selain itu, Pak Dedi pun menyarankan untuk beternak lele di air payau karena lele yang hidup di air payau memiliki kualitas daging yang lebih baik.

Mari tumbuhkan niat berwirausaha, karena sebagian besar pintu rizki adalah dari berwirausaha. Rasulullah pun seorang pedagang yang giat dan jujur. Hilangkan sifat malas yang melekat pada diri dan jangan melupakan sedekah agar rizki semakin lancar.